Showing posts with label Islamic Culture. Show all posts
Showing posts with label Islamic Culture. Show all posts

Monday, December 24, 2012

The turmoil of Islamic Political Thought

Ahead of the second millennium, in addition to the development of Marxism-Leninism flow, a mixture of Christianity and Humanism, or Buddha, or maybe some kind of class in the Hindu, Islam will be one of the six political forces that have been developed in the world today. For the people of Europe and America there is a difference between religion and political science. The political power with religious values ​​by the Europeans and Americans is a water and oil that can not be put together and even contradictory. But anyway, they actually have been deceived by the distance between religion and political power.

If the terms of the correlation, we can conclude that there is a common very close relationship between political power of Theology. The reason is unbelievably easy to find, that each of the actions associated with them have one thing that should be recognized by every person struggling with two disciplines, the Responsibility to everything.

So certainly, the greatest risk in the two field problems are prepared to die in a responsible manner. Of course, if someone had invested their lives in such a principle, the risk would be a huge force in moving the wise decisions and accompanied with bold flavors without fear to make life into a better direction. The question is, power is generated from? Is it just simply from science alone?

Therefore, agree when we say that a large force is used as the power on is filled by religious values ​​to political decisions that are implemented are embedded in the ideology and thoughts of a person's soul. Of course, the problems faced by these people will be easily solved by relying on the values ​​of Religion and Science (especially in this case is Political Science).

Judging from the value of history, so many social problems faced by the community to be a complex issue and very difficult to be solved when using a political science course. Historically, the presence of streams such as communism, Leninism-Marxism and others to make the community that there is only relying on science, so that the political policies that produced only temporary and less power in the face of social conflict. Therefore, the required values ​​of religion in solving the problems that exist today.

Saturday, December 15, 2012

Hadits kesepuluh dalam ajaran islam


Arti hadits: Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta'ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimna dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya: Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, padahal makananya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat Muslim)

Pelajaran Hadits
  • Dalam hadits di atas terdapat pelajaran akan sucinya Allah ta'ala dari segala kekurangan dan cela.
  • Allah ta'ala tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedakah dengan barang haram tidak akan diterima.
  • Sesuatu yang disebut baik adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta'ala.
  • Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.
  • Orang yang maksiat tidak termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.
  • Makan barang haram dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.
  • Anjurang untuk berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.
  • Seorang hamba akan diberi ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar dirinya diberi kekuatan untuk ta'at kepada Allah.
  • Doa orang yang sedang safa dan yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.
  • Dalam hadits terdapat sebagian sebab-sebab dikabulkannya doa: perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kusut dan berdebu, mengangkat kedua tangan ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian dengan sesuatu yang halal.
Kandungan Hadits dalam Al-Qur'an
Mempersembahkan yang terbaik untuk Allah terdapat pada Al-Qur'an Surah 28:77
Mengkonsumsi yang halal terdapat pada Al-Qur'an Surah 5:88
Meratap dalam berdoa terdapat pada Al-Qur'an Surah 19: 3 dan 32:16

Friday, December 14, 2012

Hadits kesembilan dalam ajaran islam


Arti Hadits: Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Bukhari dan Muslim)
Kandungan Hadits:
  • Wajibnya menghindari semua apa yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.
  • Siapa yang tidak mampu melakukan perbuatan yang diperintahkan secara keseluruhan dan dia hanya mampu sebagiannya saja maka dia hendaknya melaksanakan apa yang dia mampu laksanakan.
  • Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya.
  • Perkara yang mudah tidak gugur karena perkara yang sulit.
  • Menolak keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan.
  • Larangan untuk saling bertikai dan anjuran untuk bersatu dan bersepakat.
  • Wajib mengikuti Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, ta'at dan menempuh jalan keselamatan dan kesuksesan.
  • Al Hafiz berkata: Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk menyibukkan diri dengan perkara yang lebih penting dibutuhkan saat itu ketimbang perkara yang saat tersebut belum dibutuhkan.
Kandungan Hadits dalam Al-Qur'an
Patuh kepada Rasulullah shallallahu'alaihhi wa sallam terdapat pada Al-Qur'an Surah 59:7 dan 8:46
Bertakwa sebatas kemampuan terdapat pada Al-Qur'an Surah 64:16
Berdebat yang tidak berguna dan bertikai, sumber kehancuran terdapat pada Al-Qur'an Surah 40:5

Sunday, August 12, 2012

Hadits Keenam dalam Ajaran Islam


Arti Hadits:
Dari Abu Abdillah Nu`man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata,Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang mengembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari'at. Abu Daud berkata: Islam itu berkisar pada empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.

Kandungan Hadits:
  • Termasuk sikap Wara' (sikap yang timbul dari rasa takutnya seseorang terhadap perbuatan haram) adalah meninggalkan syubhat.
  • Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.
  • Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
  • Memberikan perhatian terhadap masalah hati karena padanya terdapat kebaikan fisik.
  • Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.
  • Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.
  • Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.
  • Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk.
Kandungan Hadits di atas dapat kita jumpai di Al-Quran, yaitu:
Penetapan halal dan haram. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 275, Surah An Nahl Ayat ke 115, Surah Al Maa'idah ayat ke 87
Menghindari Syubhat. Terdapat pada Surah Al Hujuraat ayat ke 12
Kedudukan Hati. Terdapat pada Surah An Nahl Ayat ke 106, Surah Asy Syu'araa' Ayat ke 89, Surah Al Hajj Ayat ke 46.
Allah Maha Berkuasa. Terdapat pada Surah Al Maa'idah Ayat ke 40 dan Surah An Naas Ayat ke 2.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 
 

Sunday, July 29, 2012

Hadits Kelima Dalam Ajaran Islam


Arti hadits: Dari Ummul Mu`minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: Rasullullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat bukhari dan Muslim), dalam riwayat muslim disebutkan: Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang  bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.
Yang dimaksud oleh hadits di atas adalah perbuatan-perbuatan yang dinilai ibadah tetapi tidak bersumber ajaran Islam dan tidak memiliki landasan yang jelas, atau yang lebih dikenal dengan istilah bid`ah.

Kandungan Hadits
  • Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar`i ditolak dari pelakunya.
  • Larangan dari perbuatan bid`ah yang buruk berdasarkan syari`at
  • Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba' (yaitu mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida' (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
  • Agama Islam adalah agama yang sempurna dan ini telah dicantumkan dalam Alquran surah Al Maidah
Kandungan hadits diatas dapat dijumpai di Al-Quran yaitu, pada:

Kesempurnaan Islam. Terdapat pada Surah  Al Maidah Ayat Ke-3
Bid`ah dan Taklid. Tedapat pada Surah  Al Hadiid ayat ke-17 dan Surah Al Israa` ayat ke-6

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 

Monday, July 23, 2012

Hadits Keempat dalam Ajaran Islam

Arti Hadits: Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami beliau adalah orang yang benar dibenarkan: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes dara selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perakara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kandungan Hadits:
  • Allah ta'ala mengetahui tentang keadaan makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah bahagia dan celaka.
  • Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi amal perbuatan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
  • Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (Husnul Khotimah).
  • Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
  • Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hati karenanya.
  • Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesunguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Hadits di atas secara terperinci memberikan informasi kepada kita apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia di dunia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. 
 
Penjelasan hadits di atas juga menceritakan bagaimana seorang manusia itu diciptakan dari setetes air mani menjadi manusia yang utuh dan setelah itu memiliki tujuan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dan adanya sebuah pengorbanan yang harus dilakukan oleh seorang Ibu demi menjaga buah hatinya mulai masih berada di kandungan. Itu semua juga tidak terlepas dari pengorbanan yang dilakukan oleh sang Ayah. Oleh karena itu, hadits ini juga berkaitan dengan hal menghormati orang tua.
 
Kalau kita perhatikan pada kandungan hadits 2 poin terakhir menunjukkan bahwa, setiap manusia itu dilahirkan oleh manusia sebelumnya (Setelah Adam tercipta). Kelahiran dan kematian manusia itu dipermukaan bumi ditentukan oleh Allah SWT kecuali manusia tersebut menjaga kesehatan dan umurnya. Ditambahkan juga bahwa Allah telah mengatur semua yang diperlukan manusia di dalam hidupnya. Antara lain:
  1. Rezeki
  2. Ajal/ Kematian
  3. Amal
  4. Celaka dan Kebahagaian
Kandungan hadits di atas dapat kita jumpai di Al-quran, yaitu:
Pengorbanan seorang ibu yang mengandung. Terdapat pada Al Quran Surah Luqman ayat ke 14.
Teori Reproduksi manusia. Terdapat pada Al Quran surah Al Hajj ayat ke 5 dan Surah Al Mu`minuun ayat ke 14 
Takdir.  Terdapat pada Al Quran surah Al Hadid ayat ke 22 dan Surah At Thagaabun ayat ke 11
Husnul Khotimah. Terdapat pada Al Quran surah Al Baqarah ayat ke 132 dan Surah An Nisaa` ayat ke 18.
 
Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 

Saturday, July 14, 2012

Hadits Ketiga dalam ajaran Islam

Arti Hadits:
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh Khottob radiallahuanhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan  Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim).
Hadits di atas menunjukkan tonggak-tonggak penyusun dari apa yang disebut dengan Islam. Ajaran Islam dibuat dengan dasar-dasar yang kuat. Tampak pada arti hadits di atas bahwa secara fundamental Islam dibangun atas lima perkara.

Kandungan Hadits:
  • Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam meng-analogikan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak di atas tiang-tiang yang kuat.
  • Pernyataan tentang keesaan Allah SWT dan keberadaan-Nya, membenarkan kenabian Muhammad shallallahu`alaihi wa sallam, merupakan hal yang paling mendasar dibandingkan rukun-rukun yang lainnya.
  • Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
  • Wajibnya mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang sudah terpenuhi syarat-syarat zakat kemudian memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.
  • Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.
  • Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma`.
  • Nash di atas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits ini. Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: "Iman itu memiliki tujuh puluh lebih cabang"
  • Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal.
Hadits di atas secara umum membuat 5 perkara dalam fundamental Ajaran Islam. Kemudian secara umum Ajaran Islam lebih dikenal dengan rukun Islam, yaitu:
  1. Ber-syahadat 
  2. Menegakkan Shalat 5 Waktu
  3. Menunaikan Zakat
  4. Melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan
  5. Ber-Haji bagi yang mampu
Kandungan Hadits di atas dapat kita jumpai di Al-Quran, yaitu:
Wala` dan Bara` dalam syahadatain. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 256, Surah An Nahl Ayat ke 36.
Shalat. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 3, Surah Maryam Ayat ke 31, Surah Thaahaa Ayat ke 132.
Zakat. Terdapat pada Surah At Taubah Ayat ke 71, Surah Maryam Ayat ke 55, Surah Al Muzammil Ayat ke 20.
Haji. Terdapat pada Surah Ali `Imran Ayat ke 97, Surah Al Baqarah Ayat ke 196, Surah Al Hajj Ayat ke 27.
Puasa. Surah Al Baqarah Ayat ke 183 dan Ayat ke 185.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 

Thursday, June 21, 2012

Hadits Kedua dalam ajaran Islam


Arti Hadits:
Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasullullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya Rasullullah shallahu `alaihi wa sallam seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?", Maka bersabdalah Rasullulah shallahu`alaihi wa sallam: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu", kemudian dia berkata, "anda benar". Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: "Beritahukan aku tentang Iman". Lalu beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk", kemudian dia berkata "anda benar". Kemudian dia berkata lagi: "Beritahukan aku tentang ihsan". Lalu beliau bersabda, "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau". Kemudian dia berkata, "Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)". Beliau bersabda, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertana". Dia berkata, "Beritahukan aku tentang tanda-tandanya", beliau bersabda, "Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) bertanya, " Tahukan engkau siapa yang bertanya?". Aku berkata, " Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui". Beliau bersabda, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian". (Riwayat Muslim)
Hadits di atas menggambarkan bagaimana sebuah ajaran islam itu diajarkan dengan metode-metode yang mudah tetapi tidak bisa dibuat mudah. Ada beberapa aturan-aturan yang harus dipahami dan diikuti dalam prosesnya. Secara umum, hadits di atas memberikan kita pembelajaran mengenai rukun islam dan rukun iman.

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena bersal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa' (kepercayaan makhluk di langit/ Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam).

Kandungan Hadits:
  • Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
  • Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang-orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
  • Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, "Saya tidak tahu", dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.  
  • Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
  • Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hamba-sahayanya.
  • Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya selama tidak dibutuhkan.
  • Di dalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta`ala.
  • Di dalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.
Hadits di atas secara umum memberikan ajaran-ajaran islam yang diawali dengan: 
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya
  3. Iman kepada Kitab-Kitab-Nya
  4. Iman kepada Rasul-Rasul-Nya
  5. Iman kepada Hari Akhir
  6. Iman kepada Takdir yang baik maupun yang buruk
dan apabila mengimani hal tersebut maka sudah merupakan titik awal pembelajaran Islam dan melaksanakan perintah dari Allah yaitu
  1. Bersyahadat
  2. Mendirikan Shalat
  3. Menunaikan Zakat
  4. Puasa di Bulan Ramadhan
  5. Pergi Haji bagi yang mampu
Kandungan Hadits di atas dapat juga di jumpai di dalam Alquran:

Iman. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 285, Surah Al Maaidah Ayat ke 5 dan Surah Al An`aam ayat ke 82 serta masih banyak lagi.
Islam. Tedapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 112, Surah An Nisaa' Ayat ke 125, Surah Al Jin ayat ke 14, Surah Al Mu`min Ayat ke 66, Surah Ali `Imran ayat ke 19 dan Surah Al Maaidah Ayat ke 3.
Ihsan. Terdapat pada Surah Al Kahfi ayat ke 30, Surah Al Qashash Ayat ke 77, Surah Al Israa' Ayat ke 7, Surah Al Maaidah Ayat ke 5.
Hari Akhir. Surah Al A`raaf Ayat ke 187, Surah Al Hajj Ayat ke 7, dan Surah Luqman Ayat ke 34.
Ilmu Ghaib/ Allah. Surah Al Baqarah Ayat ke 3, Surah An Naml Ayat ke 65, Surah Al An`aam Ayat ke 50, Surah Al A`raaf Ayat ke 188.
Belajar dan Mengajarkan Islam. Surah An Nahl Ayat ke 43, Surah Al Anbiyaa' Ayat ke 7, Surah Ali `Imran Ayat ke 79, Surah At Taubah Ayat ke 122.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)

Wednesday, June 6, 2012

Hadits Pertama dalam ajaran Islam

Arti Hadits
Dari Amirul Mu`minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasullullah Shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan di balas berdasarkan apa yang di niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan."
Hadits di atas di riwayatkan oleh dua orang imam hadits, yaitu yang bernama Abu Abdulla Muhammad bin Isma`il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang.

Hadits di atas merupakan hadits pertama yang diberikan oleh Rasullulah Shallahu`alaihi wa sallam untuk umat islam sebagai acuan bagi kita dalam melaksanakan kewajiban sebagai umat manusia dan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Secara umum hadits ini merupakan hadits yang menjadi tonggak awal dalam perjuangan islam, dan bahkan hadits di atas menjadi salah satu hadits yang menjadi inti ajaran islam.

Senada dengan hal tersebut, Imam Ahmad dan Imam Syafi`i berkata:
Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu bagian dari ketiga unsur tersebut.
Diriwayatkan dari Imam Syafi`i bahwa dia berkata:
Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh.
Kandungan Hadits:
  • Niat merupakan syarat layak/ diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan menghasilkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta`ala)
  • Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati/ qalbu
  • Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta`ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah
  • Seorang mu`min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya
  • Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhaan Allah maka dia akan bernilai ibadah
  • Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/ rutinitas) adalah niat
  • Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah Membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan
Hadits di atas secara umum memberikan penjelesan mengenai niat dalam melaksanakan aktivitas baik aktivitas secara hablum minallah ataupun hablum minannas. Hadits di atas memiliki pokok bahasan 3 pokok, yaitu:
  1. Niat dan Keikhlasan
  2. Hijrah
  3. Fitnah dunia
Dan dari ketiga pokok bahasan tersebut dapat kita jumpai di Alquran yaitu pada:

Niat dan Keikhlasan. Terdapat pada surah Al A`raaf ayat ke 29 dan surah Al Bayyinah ayat ke 5
Hijrah. Terdapat pada Surah An Nisaa` ayat ke 97, Surah Al Baqarah ayat ke 218, Surah Ali `Imran ayat ke 195 dan Surah Al Anfaal ayat ke 72
Fitnah Dunia. Terdapat pada Surah Ali `Imran ayat ke 145, Surah An Nisaa` ayat ke 134, Surah Al An`aam ayat ke 70 dan Surah Al Anfaal ayat ke 67 

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)

Friday, May 25, 2012

Shalat dan keutamaannya bagi kita Umat muslim

Shalat merupakan salah satu bentuk interaksi kita manusia (sebagai makhluk ciptaan-Nya) dengan Sang Pencipta. Shalat merupakan bentuk ritual religi yang kita lakukan sebagai umat islam sebagai salah satu bentuk "action" atas perintah Sang Pencipta, Allah SWT.

Dalam situsnya, wikipedia menuliskan " Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam".

Rasullullah SAW yang merupakan acuan dalam menjalankan perintah dari Allah SWT bagi umat islam memberikan nasehat dan tata cara dalam melakukan shalat. Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat, diantaranya ia bersabda: "Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkan salat, maka berarti dia telah kafir. Orang yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang laknat, berdasarkan hadis berikut ini: "Barangsiapa yang menjaga salat maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.

Ketika kedudukan shalat begitu tinggi dalam islam, tentunya secara logika pasti ada sesuatu yang membuat bahwa shalat itu begitu spesial diantara ibadah-ibadah yang diperintahkan kepada kita umat islam. Hal yang spesial itu lebih kita dengar dengan istlah "keutamaan shalat", dan bukan saja untuk pribadi, keluarga muslim, atau bahkan hanya untuk masyarakat muslim melainkan untuk semua manusia yang ada di sekitar kita (amatan nas). Sehingga ajaran islam memang benar-benar sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang dapat dirasakan oleh semuanya.

Muhammad Abu Ayyas dalam bukunya yang berjudul "Keajaiban Shalat Dhuha" menuliskan mengenai keutamaan shalat bagi yang mengerjakan yang diambil dari buku berjudul " Manzilatu Ash Sholah Fil Islam " karya Sa`id Ali bin Wahf Al Qahthani, berikut keutamaannya:

  1. Shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. 
  2. Shalat adalah perbuatan yang paling utama setelah dua kalimat syahadat.
  3. Shalat menghapus segala kesalahan.
  4. Shalat pembersih noda keburukan.
  5. Shalat memberikan cahaya kepada pelakunya.
  6. Shalat mampu mengangkat beberapa derajat dan dihapuskan dosa-dosa bagi yang mengerjakan.
  7. Mendapat kelembutan Rasulullah SAW.
  8. Allah mengangkat derajat dan menghapus dosa bagi orang-orang yang berjalan untuk melakukan Shalat.
  9. Dihapuskan dosa sebelumnya.
  10. Malaikat memberi shalawat kepada orang yang melakukan shalat.
  11. Menunggunya merupakan ribath di jalan Allah SWT.
  12. Pahalanya sama dengan pahala orang yang menunaikan haji.
  13. Datang terlambat berjamaah (masbuq), sudah termasuk mengikuti dan mendapatkan pahala orang yang berjamaah.

Tuesday, April 17, 2012

Peradaban pada masa Rasulullah Muhammad SAW

Sobat blogger, seperti janji saya yang kemarin, tepatnya di artikel mengenai sejarah permulaan islam di dunia saya akan melanjutkannya dengan peradaban yang terbangun di kalangan masyarakat islam. Tentunya, artikel ini juga akan dimulai dengan peradaban pada masa rasullullah Muhammad SAW. Peradaban atau kebudayaan pada masa Rasullullah SAW terlihat secara jelas dan gamblang terjadi perubahan pola pikir masyarakat. sudah pasti memang, sewaktu kita kanak-kanak kita sering mendengar kata jahiliyah, bodoh, dan lain sebagainya yang merupakan sebuah bentuk penjelasan secara naratif yang diberikan kepada masyarakat arab sebelum datangnya Islam.

Sejak turunnya wahyu pertama yang menyuruh seluruh umat manusia untuk mengenal, memeluk dan memahami islam dengan metode membaca kehidupan masyarakat arab pada saat itu sudah mulai berkembang. Zaman yang dimana baik kaum wanita maupun pria hampir sama rendahnya dengan hewan sudah berevolusi secara sosial menjadi makhluk yang lebih beradab.

Perubahan sosial yang mendasar dari masa ke masa adalah hilangnya kebobrokan masyarakat arab secara moral digantikan dengan sebuah moralitas yang beradab, dan ini terjadi saat Rasullullah SAW mulai mensyiarkan ajaran islam. Pada buku yang saya baca, karangan Dedi Supriyadi M.Ag yang berjudul Sejarah Peradaban Islam menuliskan tentang peradaban islam pada masa Rasullullah SAW. Beliau mencantumkan karya Ahmad Al-Husairy yang berisikan tentang peradaban pada masa Nabi dilandasi asas-asas yang diciptakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW, tentunya itu semua dibawah bimbingan Allah SWT yang diberikanNya melalui wahyu-wahyu. Antara lain sebagai berikut:

Pembangunan Masjid Nabawi. Riwayat mengatakan, ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, di perjalanan, unta yang ditunggangkan Rasullulah berhenti di suatu tempat dan pada saat itu juga Rasullullah memerintahkan agar di tempat tersebut dibangun sebuah Masjid. Rasullulah ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut. Ini membuktikan adanya sebuah kerja sama sosial antara umat manusia dalam rangka membangun masjid. Masjid tersebut digunakan oleh kaum muslimin sebagai tempat beraktivitas selain beribadah seperti belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupun perayaan besar. Kerja sama ini mengkerucut menjadi sebuah silaturahmi yang mempersatukan umat muslimin.

Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW juga mempersaudarakan semua umat muslimin yang berasal dari kaum manapun, setelah mempersatukan umat maka perlu dilakukan sebuah penguatan ikatan sehingga persatuan tidak dapat digoyahkan oleh siapapun. Terjadi sebuah sifat saling berbagi, suka duka ditanggung sendiri, orang yang membutuhkan dibantu, inilah yang terjadi. Sehingga persaudaraan umat muslimin lebih kuat daripada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan.

Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslimin. Di Madinah, ada tiga umat manusia pada saat itu, yaitu kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non-muslimin, dan orang-orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa). Rasulullah membuat sebuah kesepakatan yang dikenal dengan piagam madinah mengenai terjaminnya keamanan dan kedamaian diantara umat beragama. Piagam ini merupakan tonggak awal terbentuknya sebuah toleransi antar umat beragama dalam suatu wilayah untuk tidak terprovokasi.

Peletakan Asas-Asas Politik, Ekonomi dan Sosial. Di Madinah, Rasulullah SAW memulai dakwah mengenai ajaran Islam yang didapat dari wahyu-wahyu Allah yang berisikan seluruh aturan dan pedoman hidup manusia. Pada dakwah-dakwah ini lah umat manusia tidak hanya kaum muslimin diajarkan mengenai konsep dasar hidup. Ilmu pengetahuan seperti teknologi, ilmu-ilmu sosial, ekonomi, politik, serta budaya diajarkan, agar manusia dapat hidup berdampingan secara damai tanpa takut ada terjadi suatu masalah.

Jika terjadi suatu masalah, maka setiap orang memiliki peran yang digunakan untuk melakukan musyawarah, langkah apa yang sebaiknya dapat diambil.

DMCA Protection