Showing posts with label History of Islam. Show all posts
Showing posts with label History of Islam. Show all posts

Tuesday, April 9, 2013

General Sort Periodization of Islamic Civilization

Among historians nearby is a difference regarding the commencement of Islamic history. In the field of wide-ranging, these disagreements can be at odds into two. First, a few historians argue so as to the history of Islam preparatory from the Prophet Muhammad was appointed Rasullullah SAW. Therefore, according to this belief, as long as 13 years of the Prophet Muhammad lived in Mecca has been born to Muslim society, although not monarch.

Second, a few historians argue so as to the history of Muslims began in the Prophet Muhammad migrated to Medina as the further monarch Muslim commune once the Prophet Muhammad lived in Medina. Muhammad lived in Medina, not righteous as apostles, but too doubles as the leader or head of the State under the constitution, called the Charter of Medina.

In the field of addition to differences on beforehand Islamic history, historians too diverge in determining the phases or periodization of Islamic history. There are by smallest amount two periodization of Islamic history has still leave self-assured by scholars who turn up from Indonesia. Where, periodization of Islamic history is as follows:

The initiation of Islam (610-661 AD)
Ammawiyah Daula (661-750 AD)
Daula Abbasid I (750-847 AD)
Daula Abbasid II (847-976 AD)
Daula Abbasid III (946-1075 AD)
Daula Mughals (1261-1520 AD)
Daula Ottomans (1520-1801 AD)

There is too a historian who divides the history of Islam into 3 parts which are reviewed from the full stop in wide-ranging. 3 Period surrounded by others,

Classical Period (650-1250 AD)
Period mid-(1250-1800)
Modern Period (1800-present)

Saturday, December 15, 2012

Hadits kesepuluh dalam ajaran islam


Arti hadits: Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta'ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimna dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya: Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, padahal makananya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat Muslim)

Pelajaran Hadits
  • Dalam hadits di atas terdapat pelajaran akan sucinya Allah ta'ala dari segala kekurangan dan cela.
  • Allah ta'ala tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedakah dengan barang haram tidak akan diterima.
  • Sesuatu yang disebut baik adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta'ala.
  • Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.
  • Orang yang maksiat tidak termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.
  • Makan barang haram dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.
  • Anjurang untuk berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.
  • Seorang hamba akan diberi ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar dirinya diberi kekuatan untuk ta'at kepada Allah.
  • Doa orang yang sedang safa dan yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.
  • Dalam hadits terdapat sebagian sebab-sebab dikabulkannya doa: perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kusut dan berdebu, mengangkat kedua tangan ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian dengan sesuatu yang halal.
Kandungan Hadits dalam Al-Qur'an
Mempersembahkan yang terbaik untuk Allah terdapat pada Al-Qur'an Surah 28:77
Mengkonsumsi yang halal terdapat pada Al-Qur'an Surah 5:88
Meratap dalam berdoa terdapat pada Al-Qur'an Surah 19: 3 dan 32:16

Sunday, August 12, 2012

Hadits Keenam dalam Ajaran Islam


Arti Hadits:
Dari Abu Abdillah Nu`man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata,Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang mengembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati". (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari'at. Abu Daud berkata: Islam itu berkisar pada empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.

Kandungan Hadits:
  • Termasuk sikap Wara' (sikap yang timbul dari rasa takutnya seseorang terhadap perbuatan haram) adalah meninggalkan syubhat.
  • Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.
  • Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
  • Memberikan perhatian terhadap masalah hati karena padanya terdapat kebaikan fisik.
  • Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.
  • Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.
  • Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.
  • Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk.
Kandungan Hadits di atas dapat kita jumpai di Al-Quran, yaitu:
Penetapan halal dan haram. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 275, Surah An Nahl Ayat ke 115, Surah Al Maa'idah ayat ke 87
Menghindari Syubhat. Terdapat pada Surah Al Hujuraat ayat ke 12
Kedudukan Hati. Terdapat pada Surah An Nahl Ayat ke 106, Surah Asy Syu'araa' Ayat ke 89, Surah Al Hajj Ayat ke 46.
Allah Maha Berkuasa. Terdapat pada Surah Al Maa'idah Ayat ke 40 dan Surah An Naas Ayat ke 2.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 
 

Sunday, July 29, 2012

Hadits Kelima Dalam Ajaran Islam


Arti hadits: Dari Ummul Mu`minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: Rasullullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (Riwayat bukhari dan Muslim), dalam riwayat muslim disebutkan: Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang  bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak.
Yang dimaksud oleh hadits di atas adalah perbuatan-perbuatan yang dinilai ibadah tetapi tidak bersumber ajaran Islam dan tidak memiliki landasan yang jelas, atau yang lebih dikenal dengan istilah bid`ah.

Kandungan Hadits
  • Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar`i ditolak dari pelakunya.
  • Larangan dari perbuatan bid`ah yang buruk berdasarkan syari`at
  • Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba' (yaitu mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida' (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
  • Agama Islam adalah agama yang sempurna dan ini telah dicantumkan dalam Alquran surah Al Maidah
Kandungan hadits diatas dapat dijumpai di Al-Quran yaitu, pada:

Kesempurnaan Islam. Terdapat pada Surah  Al Maidah Ayat Ke-3
Bid`ah dan Taklid. Tedapat pada Surah  Al Hadiid ayat ke-17 dan Surah Al Israa` ayat ke-6

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 

Saturday, July 14, 2012

Hadits Ketiga dalam ajaran Islam

Arti Hadits:
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh Khottob radiallahuanhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan  Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim).
Hadits di atas menunjukkan tonggak-tonggak penyusun dari apa yang disebut dengan Islam. Ajaran Islam dibuat dengan dasar-dasar yang kuat. Tampak pada arti hadits di atas bahwa secara fundamental Islam dibangun atas lima perkara.

Kandungan Hadits:
  • Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam meng-analogikan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak di atas tiang-tiang yang kuat.
  • Pernyataan tentang keesaan Allah SWT dan keberadaan-Nya, membenarkan kenabian Muhammad shallallahu`alaihi wa sallam, merupakan hal yang paling mendasar dibandingkan rukun-rukun yang lainnya.
  • Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
  • Wajibnya mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang sudah terpenuhi syarat-syarat zakat kemudian memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.
  • Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.
  • Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma`.
  • Nash di atas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits ini. Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: "Iman itu memiliki tujuh puluh lebih cabang"
  • Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal.
Hadits di atas secara umum membuat 5 perkara dalam fundamental Ajaran Islam. Kemudian secara umum Ajaran Islam lebih dikenal dengan rukun Islam, yaitu:
  1. Ber-syahadat 
  2. Menegakkan Shalat 5 Waktu
  3. Menunaikan Zakat
  4. Melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan
  5. Ber-Haji bagi yang mampu
Kandungan Hadits di atas dapat kita jumpai di Al-Quran, yaitu:
Wala` dan Bara` dalam syahadatain. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 256, Surah An Nahl Ayat ke 36.
Shalat. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 3, Surah Maryam Ayat ke 31, Surah Thaahaa Ayat ke 132.
Zakat. Terdapat pada Surah At Taubah Ayat ke 71, Surah Maryam Ayat ke 55, Surah Al Muzammil Ayat ke 20.
Haji. Terdapat pada Surah Ali `Imran Ayat ke 97, Surah Al Baqarah Ayat ke 196, Surah Al Hajj Ayat ke 27.
Puasa. Surah Al Baqarah Ayat ke 183 dan Ayat ke 185.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)
 

Thursday, June 21, 2012

Hadits Kedua dalam ajaran Islam


Arti Hadits:
Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasullullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya Rasullullah shallahu `alaihi wa sallam seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?", Maka bersabdalah Rasullulah shallahu`alaihi wa sallam: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu", kemudian dia berkata, "anda benar". Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: "Beritahukan aku tentang Iman". Lalu beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk", kemudian dia berkata "anda benar". Kemudian dia berkata lagi: "Beritahukan aku tentang ihsan". Lalu beliau bersabda, "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau". Kemudian dia berkata, "Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)". Beliau bersabda, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertana". Dia berkata, "Beritahukan aku tentang tanda-tandanya", beliau bersabda, "Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) bertanya, " Tahukan engkau siapa yang bertanya?". Aku berkata, " Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui". Beliau bersabda, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian". (Riwayat Muslim)
Hadits di atas menggambarkan bagaimana sebuah ajaran islam itu diajarkan dengan metode-metode yang mudah tetapi tidak bisa dibuat mudah. Ada beberapa aturan-aturan yang harus dipahami dan diikuti dalam prosesnya. Secara umum, hadits di atas memberikan kita pembelajaran mengenai rukun islam dan rukun iman.

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena bersal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa' (kepercayaan makhluk di langit/ Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam).

Kandungan Hadits:
  • Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
  • Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang-orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
  • Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, "Saya tidak tahu", dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.  
  • Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
  • Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hamba-sahayanya.
  • Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya selama tidak dibutuhkan.
  • Di dalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta`ala.
  • Di dalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.
Hadits di atas secara umum memberikan ajaran-ajaran islam yang diawali dengan: 
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya
  3. Iman kepada Kitab-Kitab-Nya
  4. Iman kepada Rasul-Rasul-Nya
  5. Iman kepada Hari Akhir
  6. Iman kepada Takdir yang baik maupun yang buruk
dan apabila mengimani hal tersebut maka sudah merupakan titik awal pembelajaran Islam dan melaksanakan perintah dari Allah yaitu
  1. Bersyahadat
  2. Mendirikan Shalat
  3. Menunaikan Zakat
  4. Puasa di Bulan Ramadhan
  5. Pergi Haji bagi yang mampu
Kandungan Hadits di atas dapat juga di jumpai di dalam Alquran:

Iman. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 285, Surah Al Maaidah Ayat ke 5 dan Surah Al An`aam ayat ke 82 serta masih banyak lagi.
Islam. Tedapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 112, Surah An Nisaa' Ayat ke 125, Surah Al Jin ayat ke 14, Surah Al Mu`min Ayat ke 66, Surah Ali `Imran ayat ke 19 dan Surah Al Maaidah Ayat ke 3.
Ihsan. Terdapat pada Surah Al Kahfi ayat ke 30, Surah Al Qashash Ayat ke 77, Surah Al Israa' Ayat ke 7, Surah Al Maaidah Ayat ke 5.
Hari Akhir. Surah Al A`raaf Ayat ke 187, Surah Al Hajj Ayat ke 7, dan Surah Luqman Ayat ke 34.
Ilmu Ghaib/ Allah. Surah Al Baqarah Ayat ke 3, Surah An Naml Ayat ke 65, Surah Al An`aam Ayat ke 50, Surah Al A`raaf Ayat ke 188.
Belajar dan Mengajarkan Islam. Surah An Nahl Ayat ke 43, Surah Al Anbiyaa' Ayat ke 7, Surah Ali `Imran Ayat ke 79, Surah At Taubah Ayat ke 122.

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)

Wednesday, June 6, 2012

Hadits Pertama dalam ajaran Islam

Arti Hadits
Dari Amirul Mu`minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasullullah Shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan di balas berdasarkan apa yang di niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan."
Hadits di atas di riwayatkan oleh dua orang imam hadits, yaitu yang bernama Abu Abdulla Muhammad bin Isma`il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang.

Hadits di atas merupakan hadits pertama yang diberikan oleh Rasullulah Shallahu`alaihi wa sallam untuk umat islam sebagai acuan bagi kita dalam melaksanakan kewajiban sebagai umat manusia dan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Secara umum hadits ini merupakan hadits yang menjadi tonggak awal dalam perjuangan islam, dan bahkan hadits di atas menjadi salah satu hadits yang menjadi inti ajaran islam.

Senada dengan hal tersebut, Imam Ahmad dan Imam Syafi`i berkata:
Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu bagian dari ketiga unsur tersebut.
Diriwayatkan dari Imam Syafi`i bahwa dia berkata:
Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh.
Kandungan Hadits:
  • Niat merupakan syarat layak/ diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan menghasilkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta`ala)
  • Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati/ qalbu
  • Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta`ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah
  • Seorang mu`min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya
  • Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhaan Allah maka dia akan bernilai ibadah
  • Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/ rutinitas) adalah niat
  • Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah Membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan
Hadits di atas secara umum memberikan penjelesan mengenai niat dalam melaksanakan aktivitas baik aktivitas secara hablum minallah ataupun hablum minannas. Hadits di atas memiliki pokok bahasan 3 pokok, yaitu:
  1. Niat dan Keikhlasan
  2. Hijrah
  3. Fitnah dunia
Dan dari ketiga pokok bahasan tersebut dapat kita jumpai di Alquran yaitu pada:

Niat dan Keikhlasan. Terdapat pada surah Al A`raaf ayat ke 29 dan surah Al Bayyinah ayat ke 5
Hijrah. Terdapat pada Surah An Nisaa` ayat ke 97, Surah Al Baqarah ayat ke 218, Surah Ali `Imran ayat ke 195 dan Surah Al Anfaal ayat ke 72
Fitnah Dunia. Terdapat pada Surah Ali `Imran ayat ke 145, Surah An Nisaa` ayat ke 134, Surah Al An`aam ayat ke 70 dan Surah Al Anfaal ayat ke 67 

Referensi : 
Hadits Arba`in Nawawiyah karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Asyraf An-Nawawi
(Penerjemah Abdullah Haidhir dan Murajaah Dr. Muh. Mu`inudinillah Bashri dan Maerwandi Tarmizi)

Tuesday, April 17, 2012

Peradaban pada masa Rasulullah Muhammad SAW

Sobat blogger, seperti janji saya yang kemarin, tepatnya di artikel mengenai sejarah permulaan islam di dunia saya akan melanjutkannya dengan peradaban yang terbangun di kalangan masyarakat islam. Tentunya, artikel ini juga akan dimulai dengan peradaban pada masa rasullullah Muhammad SAW. Peradaban atau kebudayaan pada masa Rasullullah SAW terlihat secara jelas dan gamblang terjadi perubahan pola pikir masyarakat. sudah pasti memang, sewaktu kita kanak-kanak kita sering mendengar kata jahiliyah, bodoh, dan lain sebagainya yang merupakan sebuah bentuk penjelasan secara naratif yang diberikan kepada masyarakat arab sebelum datangnya Islam.

Sejak turunnya wahyu pertama yang menyuruh seluruh umat manusia untuk mengenal, memeluk dan memahami islam dengan metode membaca kehidupan masyarakat arab pada saat itu sudah mulai berkembang. Zaman yang dimana baik kaum wanita maupun pria hampir sama rendahnya dengan hewan sudah berevolusi secara sosial menjadi makhluk yang lebih beradab.

Perubahan sosial yang mendasar dari masa ke masa adalah hilangnya kebobrokan masyarakat arab secara moral digantikan dengan sebuah moralitas yang beradab, dan ini terjadi saat Rasullullah SAW mulai mensyiarkan ajaran islam. Pada buku yang saya baca, karangan Dedi Supriyadi M.Ag yang berjudul Sejarah Peradaban Islam menuliskan tentang peradaban islam pada masa Rasullullah SAW. Beliau mencantumkan karya Ahmad Al-Husairy yang berisikan tentang peradaban pada masa Nabi dilandasi asas-asas yang diciptakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW, tentunya itu semua dibawah bimbingan Allah SWT yang diberikanNya melalui wahyu-wahyu. Antara lain sebagai berikut:

Pembangunan Masjid Nabawi. Riwayat mengatakan, ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, di perjalanan, unta yang ditunggangkan Rasullulah berhenti di suatu tempat dan pada saat itu juga Rasullullah memerintahkan agar di tempat tersebut dibangun sebuah Masjid. Rasullulah ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut. Ini membuktikan adanya sebuah kerja sama sosial antara umat manusia dalam rangka membangun masjid. Masjid tersebut digunakan oleh kaum muslimin sebagai tempat beraktivitas selain beribadah seperti belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupun perayaan besar. Kerja sama ini mengkerucut menjadi sebuah silaturahmi yang mempersatukan umat muslimin.

Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW juga mempersaudarakan semua umat muslimin yang berasal dari kaum manapun, setelah mempersatukan umat maka perlu dilakukan sebuah penguatan ikatan sehingga persatuan tidak dapat digoyahkan oleh siapapun. Terjadi sebuah sifat saling berbagi, suka duka ditanggung sendiri, orang yang membutuhkan dibantu, inilah yang terjadi. Sehingga persaudaraan umat muslimin lebih kuat daripada hanya persaudaraan yang berdasarkan keturunan.

Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslimin. Di Madinah, ada tiga umat manusia pada saat itu, yaitu kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non-muslimin, dan orang-orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa). Rasulullah membuat sebuah kesepakatan yang dikenal dengan piagam madinah mengenai terjaminnya keamanan dan kedamaian diantara umat beragama. Piagam ini merupakan tonggak awal terbentuknya sebuah toleransi antar umat beragama dalam suatu wilayah untuk tidak terprovokasi.

Peletakan Asas-Asas Politik, Ekonomi dan Sosial. Di Madinah, Rasulullah SAW memulai dakwah mengenai ajaran Islam yang didapat dari wahyu-wahyu Allah yang berisikan seluruh aturan dan pedoman hidup manusia. Pada dakwah-dakwah ini lah umat manusia tidak hanya kaum muslimin diajarkan mengenai konsep dasar hidup. Ilmu pengetahuan seperti teknologi, ilmu-ilmu sosial, ekonomi, politik, serta budaya diajarkan, agar manusia dapat hidup berdampingan secara damai tanpa takut ada terjadi suatu masalah.

Jika terjadi suatu masalah, maka setiap orang memiliki peran yang digunakan untuk melakukan musyawarah, langkah apa yang sebaiknya dapat diambil.

Sunday, April 15, 2012

Sejarah Permulaan Islam di Dunia

Islam merupakan sebuah ajaran yang diturunkan oleh Allah kepada Rasullullah SAW. Rasullullah SAW mendapatkan ajaran dari tuhan yang disampaikan oleh Tuhan melalui malaikat jibril dalam bentuk wahyu. Maka, semenjak turun wahyu pertama tersebutlah, ajaran islam dimulai di permukaan dunia ini, mulai dari tata cara ibadah, kehidupan social,hukum dan ilmu pengetahuan lainnya, teknologi serta syaria`t-syaria`t islam yang mempengaruhi kehidupan manusia di bumi. Maka, tak heran bila jika kita dapat melihat berbagai macam perkembangan ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini tak lepas dari perkembangan ajaran islam. Oleh karena itu, pada artikel kali ini kita akan memulai perjalanan islam dari awal terbentuknya.

Terbentuknya ajaran islam sebenarnya sudah dimulai pada masa nabi Adam AS (baca `alaihisallam) yang menurut riwayatnya diciptakan oleh Allah SWT untuk menjadikan khalifah dimuka bumi ini, sesuai dengan Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 30 yang dalam terjemahannya berarti:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bummi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan Menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Prof. Quraish Shihab dalam bukunya “Tafsir Al-Misbah”  mengatakan, Ayat ini dimulai dengan penyampaian keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencana-Nya dalam menciptakan manusia di bumi. Penyampaian kepada mereka penting karena malaikat akan dibebani sekian tugas menyangkut manusia. Penyampaian berita ini menunjukkan adanya suatu proses dalam memberikan tanggung jawab kepada seseorang untuk melaksanakan sebuah pekerjaan, dan pekerjaan tersebut tepatnya di bumi. Secara logika, jika kita memberikan sebuah amanah kepada seseorang maka kita akan memberikan sebuah aturan yang ada agar amanah yang diberikan dapat berjalan dengan baik. Disinilah dimulai sebuah sistem awal yang merupakan sebuah tonggak dasar ajaran Islam.

Prof Quraish Shihab juga mengatakan dalam buku yang sama, Perlu dicatat bahwa kata khalifah dalam ayat tersebut pada mulanya berarti menggantikan atau yang dating sesudah siapa yang datang sebelumya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu melainkan bermaksud untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan.

Dimulailah sebuah era, dimana ajaran-ajaran Tuhan akan disampaikan kepada Manusia Pertama ciptaan-Nya yang bertugas menerapkan ajaran-Nya dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi ini.

Seiring dengan berkembangnya waktu, ajaran pertama yang sebenarnya diajarkan di Islam merupakan ajaran mengenai ketahuidan atau sering kita kenal dengan Ketuhanan. Ajaran ini bermaksud agar manusia yang ada di permukaan bumi ini mengetahui hanya ada satu (bukan berarti ada dua, tiga, dan seterusnya) Sang Pencipta yaitu Allah SWT.  Penyampaian ajaran ketuhanan ini dimulai dari masa Nabi Adam AS sampai nabi Isa AS dengan sebutan “laailahaillallah” yang berarti Tiada Tuhan selain Allah.

Layaknya sebuah program dalam komputer, diawali dengan sebuah program yang sangat fundamental dan dikembangkan sampai suatu saat program tersebut sempurna mencapai program terbaik. Islam juga begitu, diawali dengan sebuah program dasar berupa ajaran ketuhanan hingga sampai ajaran-ajarannya yang mencakup kehidupan manusia dan bahkan menjadi pedoman hidup manusia.

Maka, dimulailah sebuah proyek tahapan perkembangan akhir penyempurnaan agama islam yang diamanahkan kepada Rasul terakhir yaitu, Muhammad SAW. Tahapan ini dimulai dengan Kerasulan Muhammad SAW, yang pada masa tersebut Muhammad SAW mencoba meninggalkan Mekkah atau hijrah ke Madinah karena terjadi sebuah gejolak pemikiran mengenai kepercayaan yang ada di sekitar masyarakat pada saat itu.

Dr.  Hasan Ibrahim Hasan dalam bukunya berjudul “Sejarah dan Kebudayaan Islam” mengatakan, Beliau membenci berhala, sehingga tidak pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan di musim haji. Begitu juga beliau tidak pernah minum arak dan tidak pula pernah memakan hewan yang disembelih atas nama berhala serta tidak pernah menghadiri tempat-tempat mesum. Dari hal tersebut, bahwa Rasulullah SAW tidak tertarik dengan agama mana pun yang dianut oleh masyarakat arab.

Hal tersebut yang membuat Beliau selalu menyepi seorang diri dan memikirkan hal itu, mungkin beliau berpikir apakah semua ini memang merupakan hal yang diinginkan oleh sang pencipta? Sehingga beliau menempuh dan bersikap hanafiah, yakni memeluk ajaran yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim mengenai ketuhanan. Dan bahkan, sampai begitu memikirkannya beliau mencoba hijrah dan menyepi seperti mencari ketenangan untuk menjauhkan diri dari keramaian di sebuah Gua, yaitu Gua Hira. Disana beliau mendapatkan ketenangan dan merenungkan peristiwa-peristiwa yang ada di alam raya serta memikirkan hari-hari sesudah kematian. Begitulah setiap harinya Rasullullah SAW melakukan hal tersebut dan bahkan membawa bekal sampai menginap di Gua Hira tersebut selama 6 bulan sampai usia beliau mencapai 40 tahun.

Hari senin tepatnya pada saat menyendiri seperti bersemedi di Gua Hira, pada tanggal 17 Ramadhan, terjadi sebuah peristiwa yang membuat perasaan beliau ketakutan. Dalam peristiwa tersebut turun wahyu pertama kepada beliau yang disampaikan oleh malaikat Jibril tampak dihadapannya, seraya berkata dengan nada memerintah:

Bacalah (Iqra`)!, kemudian beliau menjawab Aku tidak bisa membaca (Ma ana Biqari) kemudian malaikat Jibril memeluk dan mendekam beliau kemudian melepaskan kembali sampai pada yang ketiga kalinya malaikat Jibril berkata:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (Manusia) dengan perantaraan qalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Quran surah Al-`Alaq ayat 1-5).

Inilah merupakan sebuah perintah pertama dari Tuhan kepada Muhammad SAW dalam rangka mengenalkan ajaran Islam dengan cara “MEMBACA” semua hal tentang ketuhanan. Inilah merupakan tonggak awal ajaran Islam dimulai, maka wahyu pertama ini digunakan sebagai perkenalan awal mengenai ajaran islam tentang semua aspek kehidupan yaitu dengan cara MEMBACA. Setelah wahyu-wahyu ini, maka turun wahyu-wahyu lain selama kurang lebih 22 tahun sampai Islam disempurnakan pada wahyu terakhir yaitu Al-Maidah ayat 3. Semua wahyu-wahyu ini dirangkum dalam sebuah buku bernama Al-Quran dengan komposisi 114 Surah.

Sekian dulu artikel mengenai perkembangan islam pada awal zaman, semoga artikel bermanfaat untuk anda dan membuka pemikiran kita mengenai apa itu Islam. Untuk artikel selanjutnya mengenai Islam akan saya tulis mengenai Al-Quran dan Kebudayaan Islam itu sendiri. Wassalam.

Sumber: Al-Quran, “Tafsir Al-Misbah” karangan Prof. M. Quraish Shihab dan “Sejarah dan Kebudayaan Islam” Dr. Hasan Ibrahim Hasan.

Sunday, May 29, 2011

The relationship between Islamic philosophy with the science of kalam

As known to use a big mind in the discussion of religious matters in Islam are not only found in the field of Islamic philosophy, but also in the field of science kalam, tasawwuf, fiqh usul, and science. For that reason, in this case we will discuss the relationship between philosophy with science kalam.
Kalam in Arabic can be defined with words and sayings. In linguistic science, kalam is composed of words in a sentence that has meaning. While the science of religion, which is meant by kalam is the word of god. Then these words indicate a science of its own, called the science of kalam. Among the reasons advanced, is as follows: 

The most important issue is the talk of the early centuries hijrah is the word of God or word of the Koran as one of His nature, whether Kadim, not created, or the hadith (for new), was created? (Please be distinguished tradition says the opposite of Kadim, the Hadith: sayings, words, determination and character of Prophet Muhammad SAW) 

Foundations of the arguments of kalam is reason (ratio). The theology or mutakallimin define the subject matter with reasonable arguments put forward in advance, after completion of their new back on the argument naqal (Qur'an and Hadith). 

Way of proving the religious beliefs of science like logic and philosophy.
Thus, the science of kalam is one of Islamic science that arise from the discussion of the Islamic ummah in formulating the creed of Islam by using the arguments of reason and philosophy. This can be seen in many science books Kalam (science of monotheism) is always first put forward reasonable arguments (logic), then followed with the argument naqal (Qur'an and Hadith). 

Upon premises that, among the writers of Islam, like Ibn Khaldun in his Prolegomena, Al-Iji in Al-Mawaqif, Mushtafa Abdul Raziq in his book Al-philosophy Prolegomena chronicle al-islamiyyah and Renan in his book, Ibn Rushd wa al-kalam Rusydiyah incorporate science into the scope of Islamic philosophy. This is because they see that between these two Islamic disciplines have a very close relationship and the issues discussed between them already mixed so it is difficult to distinguish. 

Kalam Science as well as Islamic philosophy, influenced by Greek philosophy. However, the main source of their advantage is the religious texts. It can be seen especially in alliran Mu `tazillah and Al-Ash` ariyah. However, in reality the science of Kalam was born from the problem of Islam itself, while the solution is only affected from philosophy.
It is clear that the distinction between Islamic philosophy and science of kalam is located on the method and its object. In detail can be presented as follows: 

Science is essentially religious kalam different methods and objects of Islamic philosophy. Philosophy of intellectual method, then the religious texts serve as evidence to justify the reason. Meanwhile, the science of kalam is a method of argumentation, then used as a tool to justify the philosophy of religious texts. The object of philosophy is God, nature, and humans, while the science of kalam is the object of God and its properties and the relationship of God with nature and human life on earth in accordance with the Shari'a of Allah revealed to His servant in the holy books. Philosophy ford field without thinking associated with the existing opinions. While the science of Kalam take propositions contained in the creed of religious texts that no possible doubt as the existence of God, then look for arguments.
Philosophy is a foreign term (Greek), who entered the world of Islam (Arabic language). So, the philosophy of Islam is a product from outside Islam, while science is the science of Islamic kalam itself was born from discussions about the Qur'an, whether the hadith, for new, or Kadim? 

Beginnings of Islamic philosophy born in the late second century hijra early third century, there were already well-known philosophers as philosophers, such as Al-Kindi as the Arab philosophers. Similarly, in the science of kalam the characters are still called mutakallimin and not called philosophers. In addition, there has been sharp disagreement between the philosophers and the theologians like the case between the theologian Al-Ghazali Al-Ash `ari and Ibn Rushd.

Sunday, April 10, 2011

Privileges Regarding Arabic

Arabic designated as the sixth official language besides Chinese, English, French, Russian and Spanish in 1974 by the United Nations (UN). Although its use in today's less popular with English, but in fact Arabic is the language that the user first reaches the most extensive areas on earth.

Arabic language included in the Semitic language family, which flourished in the Mediterranean Gulf region, especially in the vicinity of the Euphrates and Tigris rivers, and coastal areas of West Asia, among others, crossing the country Syria, Lebanon, Palestine. According to language experts and Eastern Cultures at the University of Washington said the Arabian Peninsula became the cradle of the Proto-Semitic language. However, many of them support the Arabic language was born in East Africa region around Somalia or Ethiopia. This conclusion was supported by the facts of the East African countries is dominated by Arabic as the official language.

Linguistic experts from Yale University, Benjamin Lee Whorf and his teacher Edward Sapir hypothesis known as "linguistic relativity". Based on his research, they found that there is a relationship between language, ways of thinking, and behavior. That is because the purpose languages ​​is not merely a communication tool, but also become a tool for someone to think and act. Characteristics of the language of a nation, directing how they think and describe the reality of life. Not only that, Muslim scholars also developed civilization. History records a large role arabic language as a means of knowledge transfer. And even the Muslim scientists also developed his own knowledge of science. the world recognize the science of algebra, chemistry, geology, trigonometry ball is part of Muslim scholars contributed to world civilization. Science written in Arabic which they then taught to many other nations of different languages.

Friday, March 18, 2011

Civilization at the time of Prophet Muhammad SAW

Civilization or culture at the time of the Prophet SAW is the most powerful social change. A fundamental shift from the moral depravity to the civilized morality.. In the article described Ahmad Al-Husairy that civilization at the time of the Prophet based on the principles based on the Alquran. Among others the following:

Nabawi Mosque Development. It is reported that mounts the Prophet Muhammad SAW stopped in a place the Prophet Muhammad SAW ordered that the place was built a mosque. Messenger participate in the construction of the mosque. He lift and move the rocks mosque with his own hands. At that time, exposed to the Baitul Maqdis mecca. Pole mosque made of palm stems, while the roof is made from palm leaf midrib. As for his wife's rooms built alongside the mosque. When construction is completed, the Prophet entered the marriage with Aisha in the month of Shawwal. Since then, Yathrib is known as the Apostle Madinatur or Madinah Al-Munawwarah. The Muslims do various activities in this mosque, good worship, learn, decide their case, sold and bought as well as celebrations. This place is a factor that unites them.

The brotherhood between immigrants and the Anshar. Messenger unite in friendship among the Muslims. They then share their home, even the wives and their properties. Brotherhood is the case more strongly than just brotherhood based on descent. With this fellowship, the Messenger of Allah has created a unity based on religion in lieu of unity based on tribes.

Agreement to copy the help of the Muslims and non-Muslims. In Medina, there are three classes of man, namely the Muslims, Arab people, as well as the non-Muslims, and those Jews (Bani Nadhir, Quraizhah Bani, Bani Qainuqa). Messenger does one deal with them to guarantee the security and peace. Also to bear a most helpful and tolerant atmosphere between classes.

Laying down principles of political, economic, and social
. In general, 3 pts had previously shown the existence of a basis in socializing. As social creatures, the Prophet Muhammad SAW has set up a social system that did not look at the caste. On another matter, the Prophet Muhammad SAW has made a change in Medina city that was originally named Yathrib. This is a political step in determining the steps of Muslims at the time. Commenting on the change of name Yastrib into Medina, Nurcholish Madjid, that political agendas have been laid and he apostleship act as a messenger of God, the head of state, commander of the army, and civic leaders. All of which made the Prophet Muhammad SAW are the steps in the field of Political, Economic, social and urban migration is a reflection of the ideas contained in the words of Arabic, Medina. Etymologically meaning place of civilization, which is the equivalent of the Greek words namely the Policy.

DMCA Protection